Panganten & Bulu Kuduk
Oleh GODI SUWARNA
Hanya dua rupa karya seni yang menarik untuk dibicarakan. Karya yang teramat baik mutunya dan sebaliknya. Ada pun karya jajar pasar alias yang biasa-biasa saja sebaiknya dilewatkan saja dulu, sampai penciptanya membikin karya yang benar-benar baik, atau sungguh-sungguh buruk. Karya yang baik itu ukurannya bulu kuduk, begitu menurut Drs. H. Acep Zamzam Noor. Begitu pula karya yang buruk, kataku. Dua-duanya sama-sama membuat kuduk merinding. Merinding lantaran kena pesona. Merinding lantaran kebebalannya. Ihwal rinding-merinding ini bisa dibicarakan berpanjang-panjang, mengingat tidak semua kuduk sama persis jenis bulunya.
Lantaran berbeda bulu di kuduk, seorang pengamat sastra Sunda pernah memuji habis sebuah novel yang tebal. Sebelum mengupas isi, beliau berpanjang lebar memuja perkara ketebalannya. Seakan mutu novel ditentukan oleh kiloan entog. Semakin tebal novel ditulis, semakin berat kiloan entognya, mungkin akan semakin ringanlah pena sang pengamat menyanjung habis-habisan. Bisa terjadi seperti itu. Sementara menurut kuduk yang lain, tidak selalu yang tebal-tebel itu tajam dan tepat guna. Dari bulu kuduk jenis ini muncul petitih: Kecil itu Indah. Nah!
Apabila kiloan entog ikut-ikutan jadi ukuran, akan tamatlah riwayat novel Sunda Panganten (Kiblat Buku Utama 2003) karya Deden Abdul Aziz. Buku mungil ini berasal dari salah satu naskah pemenang lomba penulisan novel majalah Mangle. Cuma 107 halaman, dikurangi 20 halaman pengantarnya yang ditulis ccrdas oleh Hawe Setiawan. Beratnya tidak mencapai 1 kg. Tepatnya, 1ons kurang sedikit. Memang bukan kelas berat. Mungkin cuma kelas tawon yang cepat serta menyengat.
Pengarang Panganten yang bernama kolaborasi Sunda-Arab ini sama sekali bukan Habib, juga tidak berdarah Badewi. Mungkin titisan Dalem Cikundul karena Rd. Deden Abdul Aziz pituin menak Cianjur, lahir tahun 1972. Masih terbilang ABG dibanding Resi Wahyu Wibisana. Sarjana Bahasa Indonesia lulusan UPI (Universitas Padahal Ikip) Bandung yang menulis dalam bahasa Sunda ini berangkat dari penyair lirik yang baik. Sebagai penyair handal, Deden sangat hafal memperlakukan bahasa. Dalam buku perdananya ini, dia tetap berhemat kata-kata, namun mampu merengkuh kedalaman dan menjangkau keluasan.
Bak sebuah puisi, novel ini tipis sekaligus ?tebal?. Tidak cerewet dan bertele-tele seperti novel-novel Sunda yang pernah terbit. Ceritanya sendiri sederhana. Tentang kehidupan remaja zaman sekarang di sebuah kota besar. Tentang siswa-siswi sekolahan yang sedang mencari jatidirinya. Tentang pertemuan dan perpisahan. Tentang percintaan dan kematian. Biasa saja. Yang luar biasa adalah karakter tokoh-tokohnya. Terutama Rinrin, tokoh utama, yang memaksakan diri menjadi tomboy lantaran merasa bahwa kehidupan lebih berpihak kepada kaum lelaki. Cewek ini selalu mencoba berpikir dan bertindak bak seorang cowok. Juga tokoh-tokoh lainnya yang digarap dengan apik dan menarik oleh pengarang
Cara pengarang bertutur belum begitu ilahar dalam sastra Sunda. Tuturannya tidak selalu runtut serupa garis yang lurus-lurus belaka, terkadang terpatah-patah, dengan lincah meloncat serta melambung ke mana suka, serupa orang melamun atau ngecebrek. Hidup berikut takdirnya dipermasalahkan dalam bingkai kaum remaja. Di balik monolog serta dialog yang melantur-lantur, yang terkadang terkesan bermain-main, seakan tersembunyi sebilah pisau setajam sembilu yang selalu mengiris pedih, dari awal sampai akhir.
Kepedihan pun bisa muncul dalam adegan-adegan karikatural. Misalnya, Pa Asep guru fisika yang menjengkelkan, selalu keliru mengumumkan nama murid yang meninggal dunia. Atau, Si Rudi tiba-tiba naik pohon, menangis habis-habisan sambil terus melahap pentil jambu berikut ulat-ulatnya. Adegan-adegan seperti itu memancing pembaca untuk tertawa sekaligus menangis. Pembaca terus diharu-biru, di antara adegan konyol dan tragis, diantar untuk katarsis. Sebuah siasat jitu dari pengarangnya, sehingga novel ini tidak menjadi melodrama yang cengeng, meski isinya sesungguhnya melulu berpilu-pilu.
Pilu dan sendu telah menjadi cap pengarang rengkung berhati Rinto ini. Semua puisi dan cerpennya selalu barusuh manah. Di awal karirnya, Deden Abdul Aziz pernah menulis sebuah cerpen tragis yang selintas bak menghujat Tuhan. Akan tetapi, bila dibaca dengan jenis bulu kuduk yang tepat, sesungguhnya cerpen itu sangat religius. Deden menggebrak keimanan seseorang lewat sisi dan caranya sendiri, berbeda dengan kebanyakan pengarang Sunda yang merangkap juru khotbah. Tidak heran, hanya seorang pembaca ahli yang bisa ngagukguk lantas khusuk bersembahyang sehabis membaca cerpen tersebut.
Dalam Panganten, dengan caranya yang unik itu, Deden berkisah tentang bunuh diri, seks, lesbian, arak, narkoba dll. Namun tidak menghakimi. Dia hanya berusaha untuk jujur dalam menggambarkan kenyataan zaman, bukan apa yang diidealkan menurut takaran moral atau agama. Urusan makna di balik kata, terpulang kepada pembaca dalam meyimpulkan keseluruhan. Misalnya, pembaca dipersilakan menghayati, memaknai, bereaksi terhadap kuasa maut yang mencekam dalam novel ini, disesuaikan dengan bulu kuduk masing-masing. Yang jelas, Panganten sangat meyakinkan sebagai gambaran kondisi remaja Sunda di tengah kemelut zaman justru karena kejujurannya.
Untuk urusan meyakinkan pembaca, Deden mengolah bahasa Sunda sedemikian rupa dengan totalitas yang luar biasa. Belum pernah ada pengarang Sunda sebelum dia yang melakukannya. Rinrin, tokoh utama Panganten, menyebut dirinya urang. Ini di luar kebiasaan. Sejak zaman tai kotok di lebuan hingga detik ini, kata kuring lah yang biasa dipergunakan. Padahal realisme masih dianut oleh para pengarang Sunda, sementara kata kuring sudah sangat jarang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan oleh orang dusun yang paling meledug sekali pun.
Perubahan dari kuring ke urang memang seperti sepele. Namun teramat menentukan. Hanya dengan satu kata urang, yang diucapkan oleh seorang remaja putri sepanjang novel, Deden telah melakukan perubahan besar dalam penulisan fiksi Sunda. Belum lagi kata-kata lainnya yang sengaja dimasukkan untuk memperkental suasana, baik dari bahasa Inggris, Indonesia, maupun bahasa okem kaum remaja, yang membuat aroma kehidupan remaja Sunda masa kini langsung terasakan di seluruh lembaran novel. Bahasa Sunda dicampur-aduk begitu rupa, namun tidak tumarumpang, bahkan sangat dalit dengan keseluruhan.
Anehnya, di balik bahasa Sunda yang teramat garihal itu, justru tersembunyi kehalusan rasa dan kepedihan yang sangat mendalam. Serupa orang yang terus-menerus meradang dan memberontak, sementara diam-diam airmata tercurah habis-habisan. Panganten memang bukan macam tembang Cianjuran yang mendayu-dayu meskipun pengarangnya lahir di sana. Panganten adalah sejenis novel hardrock yang menggiriskan, walaupun ujung-ujungnya sama-sama barusuh manah.
Kang Wahyu Wibisana, orang yang sangat jarang memuji, pernah melontarkan kekagumannya pada bahasa Sunda Deden dalam sajak-sajak awalnya. Waktu itu, Deden masih menggunakan bahasa Sunda lulugu. Bagaimanakah gerangan kalau Sang Begawan yang garang itu membaca novel Panganten? Adakah bulu kuduk beliau akan sama merindingnya dengan bulu kudukku?
Boleh berbeda. Novel Panganten memang menarik, sangat terbuka untuk berbagai tafsiran. Bacalah! ***
Komentar
1 Komentar kana seratan “Panganten & Bulu Kuduk”
Ngintunkeun Komentar
sae pisan euy,,,,cerpen na..tapi kmna cerpen teu d tyngkeun….?