Ayatrohaedi (1939 - 2006)
Luasnya minat Mang Ayat—demikian panggilan akrab guru besar arkeologi FS UI ini di kalangan civitas academica-nya—mungkin karena rajin membaca sejak kecil. Juga, dorongan menulisnya muncul karena itu. Ayat sudah menulis cerpen dan puisi ketika masih di SMAdi Jakarta. Tak mengherankan, kumpulan cerpennya (berbahasa Sunda) yang pertama terbit ketika ia berumur 21 tahun. Judulnya Hujan Munggaran (1960).
Ketertarikannya pada arkeologi—yang kemudian jadi kepakarannya—juga dimulai sejak SMA. Ia terpengaruh oleh mahasiswa arkeologi FS UI, Olla Sumarna, yang tinggal serumah dengannya. Karena itu, selulus SMA, Ayat memilih Jurusan Arkeologi UI. Menariknya, saat ujian masuk, ada pertanyaan, “Mengapa Gajah Mada dianggap pahlawan nasional?” Ayat menjawab, “Gajah Mada bukan pahlawan nasional, tetapi penjajah nasional.”
Setamat UI (1964), Ayat sempat bekerja di Lembaga Purbakala dan ditempatkan di Trowulan, Jawa Timur, hingga 1966, masa gencarnya “pembasmian sisa-sisa G-30-S.” Ketika pulang ke Jabar, ia melihat banyak mayat mengambang di Sungai Brantas.
Tidak disukai kolega di Unpad karena “kritik”-nya, Ayat pindah mengajar ke UI (1970). Padahal, ia sudah mengajar di Unpad 4 tahun. Gelar doktor diraihnya di UI dalam bidang linguistik, yaitu dialektologi. Akhirnya Ayat diangkat menjadi guru besar bidang arkeologi (1992). Sebelumnya tersendat karena ada yang berpendapat bahwa doktornya pun mesti bidang arkeologi.
Selain dalam bahasa Sunda, Ayat juga dikenal menulis cerpen dan puisi dalam bahasa Indonesia. Ia juga menulis karangan tentang berbagai topik (arkeologi, sejarah, sastera dan kebudayaan) yang dimuat di media, menulis atau menerjemahkan buku dalam bidang sejarah, bahasa dan arkeologi.
Buku kumpulan cerpennya antara lain Warisan (1965), Yang Tersisih (1965), dan Panji Segala Raja (1974). Kumpulan sajaknya antara lain Pabila dan Di Mana (1977). Bukunya tentang bahasa adalah Dialektologi (1978), dan Reka Bahasa (1995). Terlibat pula menulis Sejarah Nasional, khususnya jilid II subjudul “Kerajaan Sunda” (1975).***
Sumber: Apa dan Siapa Orang Sunda
Komentar
Ngintunkeun Komentar