Penutur Bahasa Sunda Tinggal 30 Persen

BANDUNG, (PR).-Penutur bahasa Sunda di Kota Bandung hanya tersisa 30%. Itu pun terbatas pada kalangan pelajar yang sedang mengikuti kegiatan belajar-mengajar bahasa Sunda di sekolah. Diperkirakan pada tahun 2010 tidak ada lagi urang Bandung yang menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari.

Gugun Gunadi dari Fakultas Sastra Unpad mengatakan hal tersebut, Selasa (13/2), di GK Rumentang Siang, sejalan akan diselenggarakannya peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional di Unpad, 21 Februari mendatang.

Menurut dia, ada dua kesalahan besar yang menyebabkan bahasa Sunda semakin termarginalkan. Pertama, semakin banyak orang tua, terutama ibu-ibu muda yang tidak mau menggunakan bahasa Sunda dalam percakapan sehari-hari. Karena bahasa Sunda dianggap tidak intelek, tidak sesuai dengan kebutuhan teknologi, dsb.

“Malah banyak orang tua yang melarang anaknya menggunakan bahasa Sunda karena takut bahasa Sundanya kasar,” ujarnya.

Akibatnya, orang lebih suka dan bangga menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa Sunda. Sehingga bahasa Sunda bisa menjadi bahasa kedua setelah bahasa Indonesia.

Apalagi akses jalan tol Cipularang dibuka. Jarak Bandung-Jakarta semakin dekat. Kondisi demikian memungkinkan masyarakat Kota Bandung berinteraksi intensif dengan bahasa Indonesia dialek Jakarta yang dibawa dan digunakan orang Jakarta yang datang ke Bandung. Sehingga, orang Bandung merasa gengsi bila tidak berbahasa Jakarta.

Kondisi tersebut, kata dia, tidak hanya terjadi di Kota Bandung. Tetapi juga di Kota Bogor dan Cianjur. Maka, saat ini semakin sulit ditemui orang Bogor dan Cianjur berdialog menggunakan bahasa Sunda. “Bahasa Sunda terpinggirkan itu bukan hanya di kota tetapi juga di daerah-daerah,” ujarnya.

Di daerah, kata dia, bahasa Sunda dianggap bukan bahasa orang kota. Sehingga orang tidak mau menggunakannya.

Kedua, Dinas Pendidikan sebagai lembaga pemerintah tidak mau memberlakukan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar utama di taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD).

Pelajaran bahasa Sunda dinilai Gugun, terlalu kaku pada hafalan. Akibatnya, siswa tidak tertarik karena dianggap tidak memberi wawasan yang sesuai dengan kepentingan kehidupan keseharian mereka.

Selain itu, pengajaran bahasa Sunda di sekolah juga sering terjebak pada pengajaran materi undak-usuk. Padahal, undak-usuk tidak lebih penting dari bahasa Sundanya itu sendiri.

“Tapi kalau materi yang diberikannya berupa kekayaan kosa kata, mungkin akan lebih menarik. Karena nantinya akan memperkaya anak dalam berbahasa,” ujarnya.

Tradisi mendongeng

Sementara itu Ketua Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) Etti R.S. mengatakan, semakin berkurangnya penutur bahasa Sunda di Kota Bandung terjadi karena tradisi mendongeng seorang ibu kepada anaknya semakin ditinggalkan. Selain itu, buku-buku cerita anak berbahasa Sunda juga sangat langka. Bahkan sudah beberapa tahun, penerbit mengeluhkan tidak adanya buku cerita anak yang dapat diterbitkan.

“Ini bukan karena tidak ada pengarangnya, tetapi buku cerita anak sangat ideal ditulis oleh anak. Tapi mana ada anak yang bisa dan mau menulis buku cerita bahasa Sunda?” ujarnya.

Etti juga menyebutkan, tidak populernya bahasa Sunda sebagai bahasa ibu tampak dari tidak dikenalnya tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Jangankan masyarakat, Dinas Pendidikan saja selaku lembaga terkait masih belum menyosialisasikan hari tersebut.

Perihal rencana peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional, Etti menjelaskan, akan diselenggarakan bekerja sama dengan Disbudpar Jabar. Kegiatan diisi dengan berbagai kegiatan, lomba mengarang novelet barudak Basa Sunda, lomba dongeng untuk ibu-ibu, diskusi bahasa ibu, dll. (A-148)***

Sumber: Pikiran Rakyat, 15 Februari 2007

Komentar

1 Komentar kana seratan “Penutur Bahasa Sunda Tinggal 30 Persen”

  1. CECE HIDAYAT LEUTIK | 15-09-2008, 12:10:30

    Naha leres kitu? Tos ditalungtik kalayan daria atanapi teu acan? Ti mana kenging eta angka sakitu persen teh? Naha statistik dianggo kanggo ngetang sakitu teh? Asana mah da di sakola-sakola ge sok aya keneh nu marake basa Sunda, mung basa Sunda campur gaul nu kadang-kadang kasar. Mangga urang buktoskeun we dina taun 2010, naha leres teu aya nu ngagunakeun basa Sunda di kota Bandung. Pami diwangwang mah sigana tiasa kitu, tapi pami ditalungtik kalawan gemet, tetela masih seueur keneh nu kagungan rasa kanyaah jeung kadeudeuh kana Basa Sunda. Buktosna, dina acara-acara lalaguan Sunda dina radio sok seueur nu interaktif nelepon masih ngagunakeun basa Sunda.Atuh dina campur gaul oge sok remen kapendak nyararios ku Basa Sunda. Pami eta persentasi teh nincakna kana itungan barudak ngora jaman kiwari mah tiasa janten kitu. Tapi pan warga Bandung teh seueur keneh? Mugia, ulah kajantenan Basa Sunda dina taun 2010 tumpur ludes, teu nyesa. Tapi….. asa pamohalan. Eta mah ukur kahariwang jeung babalagonjangan “Ahli Basa” wae, jiga para sesepuh kapungkur anu meh sami ramalanana siga kitu !

Ngintunkeun Komentar