Panyajak Sunda

UNTUK pertamakalinya memasuki bulan April 2007, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Barat bekerja sama dengan Panglawungan Pangarang Sastra Sunda (PP-SS) menggelar acara Lawung Panyajak Sunda di GK Rumentang Siang, Jln. Baranang Siang No. 1 Bandung, yang berlangsung Senin (9/4/2007) lalu.

Acara yang dihadiri oleh Kepala Disbudpar Jawa Barat, Drs. H.I. Budhyana, Ketua DPD Golkar Jawa Barat, H. Uu Rukmana, penyair Karna Yudibrata, Us Tiarsa, cerpenis Aam Amilia, dan sejumlah tamu undangan lainnya, menampilkan pembacaan puisi dari penyair Godi Suwarna, Rosyid E. Aby, Yayat Hendayana, Chye Retty Isnendes, serta musikalisasi puisi karya penyair Wahyu Wibisana, Abdullah Mustappa, dan Dhipa Galuh Purba, yang dihaleuangkeun oleh Dian Hendrayana, Ani Sukmawati, dan Lia Refani. Selain itu, tampil pula pelakon teater Euis Balebat, Rinrin Chandra Resmi, Ana Bilqis, dan Ayi Kurnia membacakan puisi karya penyair Sunda lainnya dari antologi puisi “Sajak Sunda” (Kiblat, 2007) yang disunting oleh penyair Ajip Rosidi.

Digelarnya acara tersebut menarik untuk dibicarakan, sebab selama ini ternyata masih ada orang yang mau datang ke GK Rumentang Siang untuk mengapresiasi acara pembacaan puisi secara sungguh-sungguh, yang selama ini jarang dipentaskan orang maupun dipentaskan lingkung seni di GK Rumentang Siang. Sedangkan yang datang bukan hanya dari kalangan rakyat sipil dalam hal ini mahasiswa dan masyarakat umum, tetapi kalangan anggota TNI aktif dari Kodam III/Siliwangi yang menyenangi puisi sebagai sumber pencerahan nilai-nilai.

Menurut penyair Etty R.S., selama penutur bahasa Sunda masih ada di Tatar Sunda, maka selama itu pula kehidupan puisi Sunda terus tumbuh, yang masing-masing generasinya akan melahirkan para penulis baru dan kelak jadi tokoh dalam penulisan puisi Sunda kontemporer di kemudian hari. “Jadi, apa yang digelar oleh Disbudpar Jawa Barat ini patut kita sambut,” katanya sambil menambahkan bahwa acara semacam ini sangat baik diapresiasi oleh anak-anak sekolah, mahasiswa, dan umum.

Sejumlah puisi Sunda yang dibacakan dalam acara tersebut, tidak hanya mengungkap tema religius dan keindahan alam di Tatar Sunda, tetapi mengungkap tema sosial-politik, serta pelanggaran hak asasi manusia dengan berbagai variasinya. Ini artinya, para penyair Sunda dalam menulis puisi-puisinya benar-benar berpijak pada sumber kehidupan yang berdenyut di seputar dirinya.

Berkait dengan itu, pada satu sisi tumbuh dan berkembangnya puisi Sunda, memang tidak lepas dari adanya media massa berbahasa Sunda yang menyediakan rubriknya untuk pemuatan puisi. Dewasa ini kita bisa menemukan pemuatan puisi Sunda, antara lain di majalah Mangle, Cupumanik, tabloid Galura, koran Sunda, dan sekali-kali di lembaran seni dan budaya Khazanah di HU Pikiran Rakyat.

Bahkan, demi menarik minat hadirnya penulis-penulis baru dalam bidang penulisan puisi Sunda, dalam beberapa bulan terakhir majalah Mangle bekerja sama dengan Dr. Ir. H. Juniarso Ridwan menyediakan hadiah bulanan bagi para penyair Sunda yang puisi-puisinya di nilai baik oleh tim penilai. Hadiah serupa untuk penulisan cerita pendek berbahasa Sunda di majalah tersebut disediakan oleh H. Uu Rukmana, yang sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. (Soni Farid Maulana/”PR”)***

Komentar

Ngintunkeun Komentar