Milangkala PPSS Diramaikan Surat Cinta

Kang, kumaha ayeuna? Tos tiasa emam deui? Ulah bendu nya heunteu kalayad. Atuda teu aya dina kamusna, nu nyeri waos kedah dilayad. Jabi bingung kedah ngintun naon. Maenya kedah ngintun kueh tambang onaman, da eta nu aya dina keler. Kuriak karugrag….

PETIKAN di atas merupakan isi surat cinta yang ditulis oleh sastrawati Sunda, Aam Amilia. Surat yang diberi judul Kang, Ulah Bendu! itu, merupakan salah satu surat dari delapan belas surat cinta dalam bahasa Sunda, yang dihimpun dalam buku yang diberi judul Mangsi Asih Kalam Tresna, diterbitkan oleh PT Kiblat Buku Utama bekerja sama dengan Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS).

Membaca petikan surat di atas, kita bisa tertawa ketika membayangkan orang yang sakit gigi harus makan kue tambang yang keras itu. Apakah seorang kekasih ketika membaca surat dari yang dikasihinya semacam itu, — seketika itu pula akan sembuh atau malah bilang sialan?. Lepas dari semua itu bahwa menulis surat cinta tidak perlu kalimat-kalimat serius, tetapi bisa juga dengan nada canda, untuk menunjukkan kedekatan.

Diterbitkannya buku tersebut, menurut Ketua Umum PPSS Dra. Etti R.S. dalam percakapannya dengan “PR” di GK Rumentang Siang, Bandung Senin (27/3), sebagai tanda perayaan HUT ke-40 PPSS.

Para undangan yang hadir pada acara bertajuk “Milangkala 40 Taun Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda tersebut, disuguhi tembang oleh kuartet Euis Komariah, Neneng Dinar, Rina Usman, dan Rika Rafika, yang melantunkan “Serat Salira” karya Gugum Gumbira. Penampilan mereka membuat hening para tamu undangan. Penampilan mereka mewakili setiap generasi seni mamaos.

Nama Euis Komariah sudah tidak disangsikan lagi keberadaannya di tanah air ataupun di luar negeri. Demikian pula Neneng Dinar yang kini tengah berada di puncak. Sementara Rina Usman dan Rika Rafika, juru tembang juara Pasanggiri Tembang Sunda Damas, juga memiliki kemampuan yang tidak kalah.

Usai keempatnya membawakan tembang, tepuk tangan riuh para undangan bergemuruh. Bahkan, beberapa di antara pengunjung ada yang setengah memaksa berteriak agar keempatnya kembali tampil.

Sebelumnya, acara milangkala disuguhi pembacaan surat cinta oleh Ketua DPD Golkar Jabar Uu Rukmana, dengan judul “Kahatur Papayung Kalbu” karya Yayat Hendayana. Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat Drs. H.I. Budhyana, M.Si., membacakan surat cinta “Surat ti Kuring keur Kuring” karya Aan Merdeka Permana.

Hidupkan sastra Sunda

“Semula, PPSS itu singkatan dari Paguyuban Pangarang Sastra Sunda. Namun, pada bulan September 2002, berubah nama menjadi Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda. Perubahan nama itu karena yang aktif dan mendukung kegiatan PPSS saat ini bukan hanya dari kalangan sastrawan saja, tetapi juga ikut aktif para penggiat seni lainnya. Entah itu dari kalangan teater, penembang, dan bahkan musikus. Semua mempunyai tujuan yang sama, ingin menumbuh-kembangkan sastra dan bahasa Sunda,” tutur Etti.

Menurut dia, PPSS didirikan pada 27 Maret 1966 di Bandung, dengan para pendiri antara lain S.A. Hikmat, Ki Umbara, Rachmat M.A.S., dan Ajip Rosidi, di rumah S.A. Hikmat dalam acara silaturahmi Lebaran. Pengurus PPSS yang pertama pada saat itu adalah Ki Umbara (Ketua Umum), Ajip Rosidi (Ketua I), Karna Yudibrata (Ketua II), Rachmat M. Sas. Karana (Sekretaris). S.A. Warsoma (Bendahara), Rachmat M.A.S., dan S.A. Hikmat (Komisaris). “Adapun Popo Iskandar dan Saini KM diangkat jadi pangajen keanggotaan,!” ujar Etti.

Tahun 1996, para pendiri PPSS bersepakat mendirikan yayasan untuk menghidupkan kembali PPSS. Setelah badan pendiri terbentuk, kemudian dibentuk kepengurusan baru PPSS. Terpilih sebagai Ketua Umum Abdullah Mustappa, Wakil Ketua I Eddy D. Iskandar, dan Wakil Ketua II H. Usep Romli HM.

Sementara itu, H. Ajip Rosidi mengatakan, ide mendirikan PPSS muncul dari Pak Subur Abdurachman dan Ki Umbara. Tujuan didirikannya organisasi tersebut antara lain untuk menumbuh kembangkan sastra dan bahasa Sunda. “Dewasa ini perkembangan dan pertumbuhan bahasa dan sastra Sunda belum menggembirakan dan berada dalam ancaman bayang-bayang kepunahan,” ujarnya.

Acara syukuran Milangkala PPSS ke-40 yang dirayakan dengan acara kesenian seperti pembacaan puisi, tembang, baca cerpen, dan potong tumpeng itu antara lain dihadiri Prof. Yoseph Iskandar, Dana Setia, Euis Komariah, Aam Amilia, Eddy D. Iskandar, Abdullah Mustappa, Neng Dinar, dan Godi Suwarna. (Soni Farid Maulana/Retno HY/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat, 26 Maret 2006

Komentar

Ngintunkeun Komentar