Menikmati “Senja di Pangandaran” Milik Yus Rusamsi

JIKA ada pantai berwarna ungu dengan ombak dan langit berwarna biru serta pohon-pohon hijau, maka hal itu hanya bisa kita dapatkan dalam lukisan Yus Rusamsi berjudul �Senja di Pantai Pangandaran�. Lukisan itu, bersama sejumlah lukisan lainnya kini dipamerkan oleh Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PP-SS) di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK), Jln. Naripan No. 7-9 Bandung, dari 12-16 Agustus 2006.

Pameran lukisan tunggal yang diberi tajuk Lembur Kuring ini, dibuka Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung, M. Askary W., Sabtu (12/8). Pameran oleh pelukis kelahiran Kuningan 12 Agustus 1934 tersebut, pada dasarnya bukan pameran realis meski objek demi objek lukisan yang ditampilkan Yus dalam setiap goresan kanvasnya, bisa kita rujuk dalam kehidupan sehari-hari. Yus, tampaknya berupaya menampilkan realitas baru dari apa yang dirujuknya tersebut. Selain itu, lukisan-lukisannya pun mengandung narasi yang bertitik-tekan pada keheningan atau kesunyian alam raya secara personal.

Dalam mengangkat alam pedesaan, Yus yang juga dikenal sebagai pengarang Sunda ini, tidak hanya menampilkan objek pantai dan laut, tetapi juga menampilkan objek seorang anak kecil yang tengah meniup suling di atas punggung kerbau dengan latar belakang padang rumput dan sebuah pohon yang rindang. Selain itu, Yus juga menampilkan objek seorang anak kecil yang sedang menyandang dua batang bambu yang berisi cairan lahang.

Objek lainnya adalah pohon nira dengan warna buah ungu, kadang kuning dan hijau. Objek-objeknya itu, kerap pula dilukisnya secara naif, seakan-akan Yus tidak mampu menggambar figur atau alam benda. Kesan demikian, tentu saja salah.

**

DALAM melukis, selain belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, Yus juga belajar pada pelukis Syahri dan Nasar. Kedua pelukis tersebut, dikenal dengan objek-objek lukisannya yang nonrealis atau abstrak. Namun, jejak kedua gurunya itu tidak membayang dalam lukisan-lukisan Yus yang cerderung naif sebagaimana dikembangkan oleh pelukis Henri Rousseau (1844-1910) di Barat sana.

Adakah pengaruh Henri pada lukisan Yus? Boleh jadi pengaruh itu ada pada diri Yus, yakni pada pola permainan warna dan objek demi objek yang digambarkannya amat sederhana. Namun, tentu saja Yus memiliki daya magisnya sendiri. Lukisan-lukisan Yus menurut sebagian pengamat seni rupa, adalah lukisan-lukisan yang unik untuk diapresiasi. Langit bisa berwarna kuning atau merah menyala atau biru campur kuning, dan bahkan ungu.

Sementara itu, dalam percakapannya Yus mengatakan, ketika ia akan melukis sesuatu entah itu tentang alam, danau, atau alir sungai yang tenang — maka hal yang utama dilakukannya adalah melakukan observasi terhadap objek demi objek yang akan dilukisnya itu sedekat mungkin.

“Jika apa yang ingin saya lukis itu sudah mengendap di hati, atau apa yang ingin saya lukiskan itu sudah saya kuasai dengan matang, maka tangan saya akan segera melukisnya. Apa yang saya lukis itu merupakan hasil renungan saya, yang saya ekspresikan di atas kanvas,” katanya.

Sebagai pelukis, Yus tidak hanya memamerkan sejumlah karyanya di Bandung dan Jakarta saja. Ia juga pernah memamerkan sejumlah karyanya di Osaka Jepang, serta beberapa kota lainnya di Indonesia. Melukis bagi dirinya, bukan semata-mata memindahkan objek ke atas kanvas. (Soni Farid Maulana/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat 26/08/2006

Komentar

Ngintunkeun Komentar