Mengutak-atik Sastra Sunda
Oleh Lis Dhaniati
Selalu ada alasan untuk mencintai sastra, termasuk di dalamnya sastra Sunda. Ketika banyak aspek budaya Sunda perlahan luntur tergerus perkembangan zaman, karya sastra menjadi dokumen sejarah yang lebih menyentuh ketika dibaca.
Sebagai himpunan anggota dari semesta bernama sastra, sastra Sunda sudah mencakup banyak aspek. Produk sastra Sunda tidak semata berupa buku-buku yang syukur-syukur mendapat hadiah sastra Rancage. Ajip Rosidi (1983) membagi sastra Sunda dalam tiga periode, yakni jaman buhun (zaman kuno), jaman kamari (zaman kemarin), dan jaman kiwari (zaman sekarang).
Karya sastra Sunda kuno antara lain berbentuk tradisi lisan, seperti pantun, fabel, dan kawih. Ada juga karya sastra kuno yang sudah berbentuk naskah, seperti Carita Warufaguru dan Carita Kunjarakarna. Adapun sastra jaman kamari antara lain berupa karya-karya yang hidup dalam masa penjajahan, yakni dari pendudukan Mataram hingga Jepang. Adapun sastra jaman kiwari antara lain dihasilkan oleh pengarang-pengarang, seperti Yus Rusyana, Wahyu Wibisana, dan Ayatrohaedi.
Apa pun bentuknya, sastra Sunda memberikan kesan tersendiri bagi penggemarnya. Setidaknya, inilah yang dirasakan Ina Karlina (33). Pengajar di SMP 2 Pasundan ini bisa mengingat masa lalu ketika membaca karya-karya sastra Sunda. Ini tak lepas dari penggunaan medium bahasa Sunda dalam karya-karya sastra Sunda. “Ketika membaca, saya banyak menemukan istilah-istilah Sunda buhun yang sekarang sudah jarang dipakai,” kata Ina.
Ini sangat berarti bagi Ina yang dalam kesehariannya kini tak lagi bisa sepenuhnya berbahasa Sunda. “Lingkungan sudah berubah. Dalam percakapan sehari-hari, banyak orang Sunda yang lebih suka menggunakan bahasa Indonesia,” kata Ina. Ketertarikan Ina pada sastra Sunda ditanamkan sejak usia belia. Saat itu orangtuanya sudah berlangganan koran dan majalah berbahasa Sunda.
Menularkan kegemaran
Pemilik Rumah Baca Sunda Jeung Sajabana, Mamat B Sasmita (56), juga punya cerita. Kesukaannya membaca sastra dan buku-buku berbahasa Sunda lainnya diawali dari budaya lisan yang dilakukan orangtuanya. Mamat ingat, saat ia kecil, ayahnya sering membacakan buku baheula berjudul Wawatjan Poernama Alam. Kenangan itu membekas hingga sekarang ketika koleksi buku sastra Sunda di rumah bacanya sudah mencapai ribuan eksemplar.
Mamat tak menyimpan sendiri kesukaannya membaca sastra Sunda. Taman bacaan yang dimilikinya merupakan salah satu sarana untuk menularkan kegemarannya. Ia berusaha menanamkan kecintaan membaca sastra Sunda kepada anak-anak. “Di sini ada juga komik dan buku-buku berbahasa Indonesia. Anak-anak tidak saya paksa untuk membaca buku-buku berbahasa Sunda. Nanti mereka malah tidak senang. Kalau sering datang ke sini, lama-lama mereka juga melirik buku-buku berbahasa Sunda,” kata pensiunan karyawan PT Telkom ini.
Sejak didirikan Februari 2004, jumlah pengunjung terus meningkat. Secara khusus, Mamat mencatat jumlah peminjam buku-buku berbahasa Sunda. Tahun 2004, jumlah peminjam hanya 68 orang. Jumlah berkali lipat sudah tercatat pada Agustus 2007, yakni 1.223 peminjam. “Kebanyakan meminjam novel,” kata Mamat. Bacaan lain yang diminati adalah kumpulan carita pondok (cerita pendek) dan bacaeun barudak (bacaan anak-anak).
“Sebenarnya, masih banyak orang ingin membaca karya sastra Sunda. Namun, mereka tidak gigih mencari untuk mendapatkannya. Di sisi lain, karya-karya sastra Sunda tidak mudah didapatkan di toko-toko buku umum,” kata Mamat.
Kehausan mendapatkan karya-karya sastra Sunda diamini Direktur Penerbit CV Geger Sunten, Taufik Faturohman. “Sekali waktu, kami berjualan buku bersamaan dengan acara tertentu di daerah-daerah luar Bandung. Penjualan cukup bagus,” kata Taufik yang menyebut omzetnya Rp 5 juta hingga Rp 7 juta.
Namun, harus diakui jumlah yang dicatat Mamat maupun Taufik masih sangat jauh dibandingkan dengan penutur bahasa Sunda dari sekitar 40 juta penduduk Jawa Barat. Secara umum, banyak kalangan mengakui, minat membaca sastra Sunda masih tergolong rendah. Karya sastra penerima hadiah Rancage pun jarang yang terjual lebih dari 10.000 kopi. Ini berbeda dengan masa sekitar 30-40 tahun lalu. “Saat itu karya sastra Sunda masih cukup laris karena masih banyak orang yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Selain itu, belum banyak alternatif hiburan,” kata Taufik.
Selaku penerbit, Taufik mengakui, penerbitan karya-karya sastra Sunda masih belum menempati prioritas utama. “Menerbitkan buku sastra Sunda adalah pekerjaan kedua atau ketiga setelah pekerjaan utama selesai,” kata Taufik. Selain itu, penerbit masih menggunakan jalur konvensional dalam memasarkan karya-karya sastra. Ini tak bisa dielakkan karena biaya pemasaran dan promosi tidaklah murah.***
Sumber: Kompas, 01/12/07
Komentar
Ngintunkeun Komentar