Krisis Nilai Dalam “Kembang Kadengda”

sora nu tinggerendeng/ teu weleh saheng/ di leuwi aing// laut nu tan istirahat/ teu weleh motah di leuwi aing// di leuwi aing/ sagala teu weleh betah/ sagala teu weleh motah//

SEMBILAN larik puisi di atas dipetik dari puisi “Leuwi” karya penyair, Abdullah Mustappa. Puisi tersebut dimuat dalam antologi puisi “Sajak Sunda” hasil suntingan penyair Ajip Rosidi (Kiblat, 2007). Larik demi larik puisi tersebut oleh penyair Dian Hendrayana digubah menjadi sebuah lagu yang indah, yang dinyanyikannya dalam acara peluncuran antologi cerita pendek Sunda, Kembang Kadengda,Sabtu malam (18/8) di Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat (TBJB), Jln. Bukit Dago Selatan No. 53-A Bandung.

Sebelum Dian, tampil terlebih dahulu penembang Ani Sukmawati membawakan lagu “Hiji Peuting”karya Dian Hendrayana yang liriknya ditulis oleh penyair Etty R. S. Delapan larik lirik tersebut berbunyi: sarebu lengkah muru pangauban/ na hiji peuting meredong/ sarebu renghap katunda dina implengan/ na biwir jungkrang nu bedang/ mangrebu angen-angen nganteng/ dina benang-benang peteng/ dina hiji peuting nu jempling/ muga bentang-bentang nebarkeun kawening//

Selain Dian dan Ani dalam acara yang dipadu oleh Rin Candra Resmi dan Beki, tampil pula pertunjukan teater multimedia produksi Komunitas Teater Tradisi dengan sutradara Euis Balebat, dan Lasykar Panggung dengan sutradara Yusef Muldiyana. Kedua kelompok teater tersebut masing-masing menampilkan pertunjukan petikan cerita pendek dari antologi cerita pendek tersebutyang diterbitkan oleh Balai Pengelola (BP) TBJB.

**

NAPAS Sunda dalam acara tersebut mulai dibangun sejak awal acara, yakni ketika penembang Sunda cianjuran Ani Sukmawati dan Dian Hendrayana tampil membawakan dua lagu tersebut secara bergantian. Sayangnya, acara yang dikemas oleh Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PP-SS) bekerja sama dengan BP TBJB itu terasa kendor ketika masuk pada pertunjukan multimedia, yang secara teknis mengalami beberapa hambatan. Namun demikian, pertunjukan petikan cerita pendek yang divisualkan dalam beberapa cuplikan adegan sinetron yang dimainkan oleh Mollyana dan Zaenal itu akhirnya bisa juga digelar setelah Dian Hendrayana menyanyikan lagu “Leuwi”.

Cuplikan demi cuplikan adegan sinetron yang dimainkan dengan baik oleh dua orang pemeran dari Komunitas Teater Tradisi yang disutradarai oleh Eusi Balebat itu, menggambarkan isi antologi cerita pendek Kembang Kadengda yangmengusung banyak tema tentang kehidupan Ki Sunda saat ini. Yakni kehidupan Ki Sunda yang secara sosial-politik, maupun sosial-ekonomi berada dalam krisis nilai-nilai, baik secara mental maupun spiritual.

Ada tema perkawinan yang tidak pernah rukun antara suami dan istri karena setiap pihak selalu ingat pada kekasihnya tempo hari, ada soal wanita yang pusing tinggal di kampung lalu bertekad mencari kerja di kota besar dan kemudian terjerat jadi pelacur, dan sebagainya.

“Tema demi tema yang ditulis oleh sejumlah pengarang dalam antologi cerita pendek ini memang cukup beragam. Mereka mencoba mengekspresikan masyarakat Sunda hari ini. Di antara mereka yang menulis cerita pendek itu ada yang bagus ada juga yang sedang-sedang saja. Apa pun yang terjadi, yang jelas apa yang digagas dan direalisasikan oleh TBJB patut disambut oleh banyak pihak,” ujar Etty R. S., yang juga dikenal sebagai Ketua Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PP-SS) di sela-sela acara tersebut.

Berkaitan dengan itu, dalam sambutannya Drs. H. Idin Baidillah mengatakan, diterbitkannya antologi cerita pendek berbahasa Sunda oleh BP TBJB merupakan sebuah bukti bahwa pemerintah c.q. Disbudpar Jabar mempunyai perhatian yang cukup serius dalam menumbuhkembangkan kesusastraan Sunda. “Antologi ini bisa terbit karena sebelumnya TBJB menyelenggarakan acara pasanggiri penulisan cerita pendek Sunda yang diikuti oleh 42 pengarang. Dari sejumlah itu dewan juri yang terdiri dari Etty R. S., Teddy A. N.Muhtadin, dan Dadan Sutisna memilih 15 pengarang pilihan yang karyanya kami bukukan,” ujar Drs. H. Idin Baidillah M.Pd., Kepala UPT Pengembangan Bahasa Daerah Diknas Jabar mewakili Kepala TBJB, Dr. Ike Dewi Sartika M.Pd., yang berhalangan hadir.

Adapun 15 cerpenis Sunda yang karya-karyanya dimuat dalam antologi tersebut adalah cerpenis Ai Koraliati, Che Retty Isnendes, Darpar. Deni Hadiansyah, Dhipa Galuh Purba, Dian Hendrayana, Eryandi Budiman, Hermawan Aksan, Lugina De, M. Malik, Nazaruddin Azhar, Risnawati, Sarabunis Mubarok, Wasta Ai, dan Webi Alisan.

Sebelumnya di zaman kepemimpinan Nano S., tradisi penerbitan buku produk TBJB dimulai dengan buku Menjadi Aktor (1998) karya Suyatna Anirun. Buku tersebut hingga kini banyak dicari orang. Buku ini boleh dibilang sebagai buku monumental dalam proses kreatif berteater, khususnya tentang keaktoran. Sebelumnya terbit buku puisi Cermin Alam (1996) yang ditulis oleh sepuluh penyair Jawa Barat. Tradisi penerbitan buku tersebut diteruskan hingga kini karena ia sangat berguna bagi pendokumentasian kekayaan seni yang diproduksi oleh seniman Jawa Barat. Pada masa kepemimpinan Drs. Nunung Sobari terbit antologi puisi karya sejumlah penyair Jawa Barat dalam bahasa Indonesia yang diberi judul Aku Akan Pergi ke Banyak Peristiwa (2005).

Kejutan terjadi pada tahun 2006. Pada masa kepemimpinan H. Idin Baidillah, buku puisi yang terbit tidak dalam bahasa Indonesia, tetapi dalam bahasa Sunda. Buku yang terbit kali ini pun memuat sejumlah karya penyair Sunda pilihan yang diberi judul Neangan Bulan.

“Setelah menerbitkan kumpulan puisi bahasa Sunda, kini kami sudah menyusun antologi cerita pendek yang penggarapannya dikerjakan oleh penyair Etty R. S. bersama bersama Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PP-SS). Selain itu, kami berencana pula ingin membukukan teks-teks tembang Sunda cianjuran secara komprehensif. Apa yang dilakukan TBJB mengacu pada tugas utama yang harus dilakukannya, yakni melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan produk-produk seni daerah untuk pembangunan dalam berbagai bidang kehidupan manusia di muka bumi,” ujar H. Idin Baidillah. (Soni Farid Maulana/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat, 10/08/2007

Komentar

1 Komentar kana seratan “Krisis Nilai Dalam “Kembang Kadengda””

  1. SUKMA KUSUMAH BINTORO | 26-08-2008, 07:53:37

    KENAPA MAMAH BERHALANGAN HADIR… DARI ANAKMU TERCINTA SUKMA KUSUMAH BINTORO

Ngintunkeun Komentar