Belum Optimal, Upaya Pelestarian Bahasa Daerah

Setiap 10 hari ada satu bahasa daerah di dunia “hilang” karena tidak dipergunakan oleh masyarakatnya. Kondisi bahasa Sunda pun tidak jauh bedanya, dengan bahasa daerah lainnya hidup enggan mati pun tak mau.

Gubernur Jawa Barat, Danny Setiawan, mengatakan hal itu dalam sambutan berbahasa Sunda pada acara “Mieling Poe Basa Indung Internasional” (memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional), Selasa (21/2), di Aula Sanusi Hardjadinata, Kampus Universitas Padjadjaran (Unpad), Jln. Dipati ukur Bandung. “Kiwari aya kahariwang yen dumasar kana panalungtikan para ahli, aya kurang leuwih 6.000 nepi ka 7.000 bahasa etnis sakuliah dunya, anu tiap poe aya hiji anu tilem atawa sirna,” ujar Danny.

Momentum peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional sebagaimana yang ditetapkan badan dunia UNESCO, sejalan dengan program dan kebijakan yang selama ini ditempuh Pemprov Jabar. Untuk masalah pelestarian bahasa, sastra, dan aksara daerah telah dituangkan dalam Perda No. 3 Tahun 2003, namun sampai saat ini implementasinya dalam kehidupan sehari-hari masih belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Nasib bahasa Sunda, sebagai salah satu bahasa ibu yang hidup di tatar Jawa Barat, saat ini seakan dilupakan masyarakatnya. Ada beberapa kondisi dan situasi yang membuat bahasa Sunda ibarat hidup enggan mati pun tak mau.

Kondisi dan situasi tersebut, menurut Danny, di antaranya karena media cetak maupun elektronik semakin mempersempit lahan berbahasa Sunda. Kalaupun ada surat kabar atau majalah berbahasa Sunda yang membacanya pun sangat sedikit.

Saat ini, anak-anak muda di kota-kota sudah tidak mengenal bahasa ibunya. Mereka lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa nasional yang diajarkan orang tuanya maupun pengaruh teman bermainnya sejak kecil.

Lebih memprihatinkan, menurut Danny, tata bahasa Sunda sudah tidak lagi dikenal. Selain itu, pelajaran bahasa Sunda di sekolah-sekolah wak­tunya sangat sempit. “Itu pun hanya sampai tingkat SMP,” tegasnya.

Danny berharap, peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional tidak sekadar acara seremonial, tetapi harus disertai dengan upaya-upaya yang dapat dijadikan modal dalam melestarikan warisan leluhur.

Baca sajak
Pada acara yang dihadiri sejumlah tokoh, inohong, seniman, dan budayawan Sunda itu, Danny Setiawan berkesempatan membacakan salah satu sajak karya Juniarso Ridwan berjudul “Sunda Kuring”:

//ari Sunda, sunda nu mana? Sunda mah ngudag usum/ti bihari ka kiwari/unggal usik, beda ukuran eunteungna/ari karuhun, karuhun nu mana?/kulon, wetan, kaler jeung kidul/pada-pada neundeun pangaruh//.

Sementara itu, Kadisbudpar Jabar, Drs. H.I. Budhyana, M.Si., berkesempatan membaca sajak karya Alm. Prof. Ayat- rohaedi, berjudul “Cikapundung”, Rektor Unpad Prof. Dr. Himendra Wargahadibrata, membaca sajak berjudul “Cikapundung Nanjung Ngidul” karya Deddy Effendie, dan Uu Rukmana membaca sajak “Di Munara Masjid Agung Bandung” karya Etti R.S. ***

Sumber: H.U. Pikiran Rakyat, Rabu 22 Pebruari 2006

Komentar

Ngintunkeun Komentar