Musikalisasi Puisi Memberikan Angin Segar
“Album ini digarap secara profesional. Dengan adanya album ini, PP-SS ingin memberikan sebuah jendela yang lain bagi perkembangan dan pertumbuhan lagu Sunda yang liriknya bisa diisi dengan lirik-lirik puisi yang ditulis oleh para penyair kenamaan,” ujar Etty R.S.
Selain puisi Godi Suwarna yang dibuat lagu oleh Dian Hendrayana, puisi karya penyair Kis W.S., Abdullah Mustappa, Juniarso Ridwan, Eddy D. Iskandar, Etty R.S., Rahmat M. Sas Karana, Hadi A.K.S., Wahyu Wibisana, Taufik Faturohman, dan Sayudi juga dibuat lagu.
Geliat Naskah Drama Sunda
Sutradara teater R Dadi P Danusubrata dari Teater Sunda Kiwari atau TSK kerap kali mengeluhkan minimnya naskah drama berbahasa Sunda. Karena itu, demi kebutuhan pergelaran mandiri, Dadi bersama TSK-nya harus bergumul dengan naskah-naskah lama yang telah berkali-kali dipentaskan. Naskah-naskah itu berkutat pada naskah karya RH Hidayat Suryalaga, Wahyu Wibisana, dan Yosep Iskandar.
Naskah “Jeblog” Dilelang Lewat SMS
HADIAH untuk naskah drama Sunda yang menjadi juara dalam lomba yang digelar Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) terpaksa “dilelang” akibat kekurangan dana. “Lelang” hadiah tersebut dilakukan lewat SMS (short message service) atau pesan singkat kepada beberapa tokoh Sunda.
Lomba ini digelar PPSS karena merasa prihatin atas keterbatasan naskah drama Sunda selama ini. Ketua PPSS, Etti R.S. […]
Krisis Nilai Dalam “Kembang Kadengda”
NAPAS Sunda dalam acara tersebut mulai dibangun sejak awal acara, yakni ketika penembang Sunda cianjuran Ani Sukmawati dan Dian Hendrayana tampil membawakan dua lagu tersebut secara bergantian. Sayangnya, acara yang dikemas oleh Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PP-SS) bekerja sama dengan BP TBJB itu terasa kendor ketika masuk pada pertunjukan multimedia, yang secara teknis mengalami beberapa hambatan. Namun demikian, pertunjukan petikan cerita pendek yang divisualkan dalam beberapa cuplikan adegan sinetron yang dimainkan oleh Mollyana dan Zaenal itu akhirnya bisa juga digelar setelah Dian Hendrayana menyanyikan lagu “Leuwi”.
Kampanye Bahasa & Sastra Sunda di Garut
BAHASA dan sastra Sunda ternyata perlu dikampanyekan terus. Termasuk di Garut, sebuah kota Tatar Priangan. Bahasa Sunda Priangan yang dijadikan bahasa lulugu (baku), dan digunakan secara luas oleh orang Sunda, serta dijadikan bahan ajar di sekolah-sekolah. Selain bahasa Sunda lulugu, juga terdapat bahasa Sunda wewengkon (dialek setempat), seperti bahasa Sunda Banten, Cirebon, Bogor, dan daerah-daerah perbatasan dengan wilayah lain yang juga punya bahasa daerah tersendiri. Mengapa Garut sebagai kawasan bahasa Sunda lulugu harus menjadi ajang “kampanye” bahasa Sunda?
Mendesak, Kebutuhan Guru Bahasa Sunda
Pengadaan kebutuhan guru bahasa Sunda dan daerah di Jawa Barat saat ini sudah sangat mendesak dan urgen. “Untuk itu, saya telah menugaskan Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar segera melakukan inventarisasi berapa kebutuhan guru bahasa Sunda dan daerah di Jawa Barat,” ungkap Gubernur Jawa Barat, Drs. Danny Setiawan kepada wartawan […]
Mengutak-atik Sastra Sunda
Selalu ada alasan untuk mencintai sastra, termasuk di dalamnya sastra Sunda. Ketika banyak aspek budaya Sunda perlahan luntur tergerus perkembangan zaman, karya sastra menjadi dokumen sejarah yang lebih menyentuh ketika dibaca.
Musikalisasi Puisi Sunda
Puisi dalam sastra Sunda meliputi puisi lama, seperti mantra dan aneka macamnya, sisindiran, wawacan, pantun, syair, serta dangding; dan puisi baru (modern), yang dalam hal ini diwakili sajak. Dalam tulisan ini musikalisasi puisi kita maknai sebagai membuat lagu dari sajak.
Apa Kabar Sastra Sunda?
Sepuluh penyair Sunda (kemudian penyair dalam bahasa Sunda disebut Penyajak), Senin (9/4) lalu, tampil bersama di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung, dalam acara “Tepung Lawung Panyajak Sunda” atau pertemuan penyair Sunda. Mereka antara lain Soni Farid Mualana, Moel Mge, Euis Balebat, Ayi Kurnia, Ches Inendez, Godi Suwarna, Yayat Hendayana, Dian Hendrayana, Rin Rin Candraresmi, dan Rosyid E Aby.
Bahasa Ibu Landasan Inti Budaya Jepang
NAMANYA Otsuka Hiroko. Penampilan dan cara bertuturnya, khas perempuan Jepang. Apik dan sangat teratur. Itu terbukti dari cara dia membuat janji wawancara dengan “PR”. semua SMS yang dikirimnya menggunakan susunan kosakata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Begitu pula saat ia bertutur. Kita yang mendengarkannya, seperti sedang membaca sebuah buku.