Yus Rusamsi
Pengarang Sunda dan pelukis yang dilahirkan tanggal 12 Agustus 1934 di desa Mancagar (Kabupaten Kuningan) ini mulai belajar melukis tahun 1952 di bawah asuhan pelukis Syahri dan Nashar, ketika ia bersekolah di Jakarta. Atas dorongan kedua pelukis itu, tahun 1954 ia masuk Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) jurusan Seni Lukis di Yogyakarta. Beruntung baginya karena pada waktu itu pelukis Affandi, Hendra Gunawan, Soedarso dan juga Widayat mengajar praktek melukis di sana.
“Meskipun pada awalnya, lukisannya seperti umumnya karya pelukis ASRI Yogyakarta tahun 1950-an, namun ia segera menemukan gayanya sendiri yang naif, dan dengan demikian berlainan dengan karya para pelukis Yogyakarta atau para gurunya. Gaya naif yang kita lihat pada lukisan-lukisan Henri Rousseau (1844-1910) nampak besar pengaruhnya pada Yus, tapi tanpa kecenderungan karikaturalnya yang lucu, melainkan yang dominan suasana magisnya seperti yang nampak pada lukisan Rousseau yang terkenal Petenung Ular. Lukisan-lukisan Yus terasa sejuk dan manis. Bahkan warna-wama yang biasanya garang dan menyengat, seperti merah, ungu atau kuning dalam lukisan-lukisannya terasa sejuk dan menenteramkan,” kata Ajip Rosidi.
Buku-buku sastra Sunda lama yang dibacanya, lirik-lirik tembang yang sering dinyanyikan rakyat pedesaan yang banyak melukiskan keindahan alam Tanah Sunda, yang sebagian telah disaksikannya pada masa kanak-kanak, menimbulkan kerinduan yang sangat mendalam. Kini setelah Tanah Sunda rusak, kerinduannya itu membangkitkan keinginan untuk mencari sisa-sisa keindahan alamnya untuk dilukis-nya. Maka sejak 1991 ia sering pulang-pergi berkeliling, menelusuri kawasan pantai, masuk kawasan pegunungan sampai kawasan Baduy, menjelajahi kampung-kampung terpencil, mulai dari daerah Banten sampai Priangan dan Cirebon. Sudah 15 tahun dilakukannya dan telah menghasilkan kurang-lebih 500 lukisan yang melukiskan panorama “lembur kuring” (kampung halaman saya).
“Ini hal yang langka di jagat seni lukis Indonesia. Karena itu perlu dicatat. Seorang pelukis Yus Rusamsi menentukan sebuah pokok Panorama Tatar Sunda yang masih murni, lalu meneliti (antara lain lewat sastra lama Sunda), memburu dan menghayati obyek yang sesuai dengan pokok gagasan tersebut, baru kemudian merepresentasikannya di atas kanvas-kanvasnya. Bayangkan, untuk bisa menghadirkan salah satu taferilnya—lukisan Pedati Cirebon (2001 )—ia perlu waktu berburu objek itu lima tahun sejak 1966,” tulis Eddy Soetriyono dalam Gatra.
la tidak melukis objek yang dilihatnya sepintas lalu. Berulang-ulang ia berkeliling mencari objek yang dirindukannya, yang cocok dengan gagasannya, atau yang benar-benar menarik hatinya. Jika ditemukan, ia berhenti, memperhatikannya, mempelajarinya, berdialog dengan objek itu, kemudian meresapinya, menghayatinya, mengendap-kannya dalam hati sampai objek itu menyatu dengan dirinya. Setelah itu, baru ia melukisnya.
“Untuk melukis Sungai Cigunung yang berbatu-batu besar dan berair jernih itu, ia menginap di rumah temannya di pinggir sungai itu. Beberapa kali mandi dan berendam di sungai itu, batu demi batu dipeluknya, pasir dan kerikil diselaminya, bahkan shalat pun di atas batu besar di sungai itu. Pendekatan dan cara kerja semacam itu ia lakukan untuk semua lukisannya.” Demikian tulis Efix di Kompas.
“Itu terjadi, barangkali, karena Yus tidak jatuh ke dalam kebiasaan-kebiasaan pelukis-pelukis pemandangan di Indonesia. Dalam taferil-taferilnya Yus tidak cuma memotret. la tidak mengambil sikap menggeneralisasi, dan tidak spekulatif. Yus berusaha mencari dan menghayati sifat kedaerahan yang khas, berusaha melahirkan Feature, topografi, dan juga menampilkan semacam suasana hati,” tulis Eddy Soetriyono dalam Gatra.
“Kesan tenteram yang direpresentasikan Yus bisa jadi merupakan impiannya yang teramat ideal. Mungkin benar impian itu sebagai pengharapan atas alam Sunda yang di beberapa wilayah sudah teriampau meranggas dan rusak. Maka pemandangan alam yang dilihat Yus menjadi sebuah taman surga di atas kanvas. Yang pasti, menikmati lukisan-lukisan Yus Rusamsi adalah perjalanan menuju sebuah taman impian yang teramat ideal. Batu-batu sungai seperti tersenyum, dedaunan seperti menyanyi, pepohonan seperti menari. Semua itu direpresentasikan Yus dengan goresan-goresan yang teramat detail, sehingga ketika harus merekam titik ujung rumput atau butir-butir pasir di kali, maka ujung rumput dan butir pasir itu akan benar-benar hidup dan berkarakter.” Demikian tulis Dian Hendrayana di Pikiran Rakyat, Bandung.
“Corak dekoratif dan mendetail dalam merekam objek-objeknya, nampak sangat memberi aksentuasi yang khas alam pedesaan. Terlebih lagi didukung oleh kecenderungan pemilihan warna-wama yang menyejukkan. Dengan lukisan-lukisannya, Yus nampak sedang menyanyi, melantunkan lagu kerinduan akan alam pedesaan,” tulis Djajat Sudrajat di Media Indonesia.
Tahun 1960-an ia tinggal di Bandung jadi guru dan dikenal juga sebagai pengarang sastra Sunda. Tahun 1971 ia pindah ke Jakarta, bekerja di penerbit Pustaka Jaya, mula-mula sebagai redaktur, kemudian diangkat menjadi direktur, sampai mengundurkan diri tahun 1991. Karena pekerjaanya itu, hampir 20 tahun praktis ia tidak bisa melukis, hanya bisa menggeluti seni grafis yang berkaitan dengan produksi buku. Setelah pameran tunggalnya yang pertama tahun 1971 di Jakarta, baru ia bisa berpameran lagi tahun 1992. Selanjutnya setiap tahun ia berpameran di Jakarta atau di Bandung, dan pemah juga di Osaka (1993).
Komentar
Ngintunkeun Komentar