Memekarkan Kesenian Tradisional Sunda

SEORANG gadis kecil berkulit langsat dan mata sipit agak terbata-bata menembangkan Lokatmala, sebuah tembang Sunda ciptaan Mang Bakang (alm). Saudaranya, juga perempuan dalam usia yang tidak jauh berbeda, duduk agak di belakang memetik kecapi indung. Sedangkan Tan De Seng, ayah mereka, berada di sisi kiri meniup suling.

Itulah salah satu peristiwa seni yang berlangsung suatu hari Minggu siang di lantai tiga gedung Bank NISP di Jl. Taman Cibeunying Selatan Bandung. Sebelumnya, telah berlangsung rampak sekar (ibu-ibu) dan jaipongan (para remaja). Yang punya hajatnya adalah Lembaga Kebudayaan Mekar Parahyangan, sebuah lembaga yang bergerak di bidang budaya yang diprakarsai komunitas Tionghoa di kota Bandung. Hari itu Mekar Parahyangan, bekerjasama dengan Penerbit Kiblat Buku Utama, PPSS (Paguyuban Panglawungan Sastra-Sunda) dan Bank NISP, menyerahkan hadiah kepada para pemenang Pasanggiri Ngajen Carpon Mini. Setahun sebelumnya, lembaga ini pula yang menyelenggarakan pasanggiri menulis carpon mini dalam bahasa Sunda yang hasilnya kemudian dibukukan dengan judul Ti Pulpen nepi ka Pajaratan Cinta. Kumpulan karya para pemenang inilah yang kemudian dilombakan untuk dikritik.

Menurut Karmaka Surjaudaja, Lembaga Kebudayaan Mekar Parahyangan didirikan 24 Juni 2004. Tujuannya antara lain untuk mewadahi berbagai kegiatan seni tradisional Sunda yang dilakukan oleh komunitas Tionghoa di Bandung. Kegiatan seperti itu selama ini terkesan sepi dari publikasi. “Kami memang baru dalam tarap belajar, sehingga hasilnya pun belum bagus untuk ditampilkan,” kata Surjadisastra agak merendah. Pak Surja, demikianlah sehari-hari dia dipanggil, mengaku punya hobi terhadap seni, khususnya sastra.

Belajar seni Sunda

Tapi mengapa mereka kemudian merasa perlu belajar seni tradisional Sunda?

“Kami memang lahir sebagai orang Tionghoa,” kata Karmaka, “tapi kami hidup di Tanah Sunda, yang kami minum setiap saat pun adalah air yang ada di Tanah Sunda. Jadi kami merasa berkewajiban untuk memekarkan tradisi di mana kami berada”. Nama Mekar Parahyangan pun, menurutnya, berasal dari usulan Barli Sasmitawinata, seorang pelukis senior di Bandung yang sudah lama menjadi teman dekatnya. Karena tujuannya memekarkan kesenian tradisional Sunda, Pak Barli mengusulkan nama tersebut. “Cucu kami sekarang belajar melukis pada beliau,” kata Karmaka.

Dalam pandangannya, kesenian tradisional Sunda adalah kekayaan yang harus terus dipelihara dan dibantu oleh semua pihak. Ia melihat kegiatan kesenian seperti kegiatan olahraga. “Para seniman dan olahragawan itu harus diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk meningkatkan prestasinya,” katanya. Ia menyebut contoh yang terjadi di RRC, di mana seniman dan olahragawan dijamin kebutuhan hidupnya sehingga mereka tidak perlu risau memikirkan hari depannya. Salah seorang putranya, Pramana (kini sudah almarhum) sempat aktif membina olahraga softbol secara intensif. Hasilnya ternyata di luar dugaan. “Atlet-atlit kita itu bisa mengalahkan tim Filipina yang sebelumnya selalu menjadi juara di tingkat Asia” katanya. Karmaka bahkan dengan tegas berpendapat bahwa atlet dan seniman kita sebenarnya jauh lebih hebat. “Tanpa didukung seperti di negeri lain, prestasinya sudah tinggi, apalagi kalau mereka bisa berkonsentrasi pada bidangnya,” tambahnya.

Lewat Mekar Parahyangan, Karmaka dkk ingin memberikan dukungan akan pentingnya memelihara seni tradisional Sunda. “Mereka harus dibantu” katanya berulang-ulang, tanpa menyembunyikan kesannya sejauh ini di mana kehadiran masyarakat Tionghoa di tengah masyarakat hampir selalu dipandang dengan sikap curiga. Baik Karmaka maupun Surjadisastra, terkesan sangat ingin hati-hati. Dalam bahasa Karmaka, yang di masa mudanya pernah jadi atlet, kemudian jadi guru olahraga serta sempat bekerja di pabrik tekstil milik H. Syukur di Majalaya itu, “kami tidak ingin dikesankan mau menonjolkan diri”.

Yang bergabung dengan Mekar Parahyangan sekarang, sebagaimana dikatakan oleh Surjadisastra, adalah berbagai kelompok yang sering melakukan latihan. Ada yang latihan rampak sekar, ada yang latihan jaipongan. Sayang, katanya, latihannya sendiri belum terjadwal dengan baik. Maklum amatiran, sehingga Nano S yang sempat melatihnya pun, harus beberapa kali menangguhkan jadwal latihannya.

Di tengah berbagai keluh-kesah terhadap keadaan kesenian tradisional Sunda yang memprihatinkan saat ini, apa yang dikerjakan oleh komunitas Mekar Parahyangan itu tampaknya boleh juga diperhatikan. Rachmat Taufik Hidayat dari penerbit Kiblat Buku Utama misalnya melihat kerja mereka itu sistematis. “Mula-mula mereka menyelenggarakan sayembara penulisan karya sastra,” katanya, “kemudian disusul dengan sayembara penulisan kritik”.

Yang juga menarik, mereka mencoba sedapat mungkin menumbuhkan perhatian dan apresiasi yang sama terhadap generasi di bawahnya. Apresiasi seperti ini memiliki arti tersendiri ketimbang, misalnya, semata-mata mengukur tinggi rendahnya kualitas yang sudah mereka hasilkan.

Secara vokal, masyarakat kita sudah berteriak keras-keras bahwa kesenian tradisional Sunda sudah sangat terancam oleh berbagai jenis kesenian lain yang lebih diminati oleh masyarakat. Kecilnya penonton pertunjukan wayang golek, kurangnya minat terhadap Tembang Sunda, adalah dua contoh yang sudah lebih dari cukup dijadikan bukti bahwa minat masyarakat terhadap kesenian tradisional Sunda sekarang cukup parah. Banyak pihak yang juga sepakat bahwa keadaan seperti itu tidak boleh dibiarkan. Artinya harus ada sikap, kebijakan serta kerja nyata untuk mendukung dan membangkitkannya kembali. Tapi sampai sejauh ini belum ada jalan keluar yang benar-benar dilaksanakan secara benar. Kegiatan-kegiatan yang ada umumnya hanya terbatas sebagai sebuah peristiwa yang tidak berlanjut secara sistematis.

Apa yang dilakukan oleh komunitas Mekar Parahiangan, betapapun kecilnya, tidak ada salahnya kalau dijadikan semacam pendorong untuk sama-sama mengembangkan tujuan yang sama tersebut. Di masa lalu komunitas pencinta seni tradisional Sunda di kalangan masyarakat Tionghoa di kota Bandung ini sempat mengadakan kolaborasi pertunjukan seni tradisional Sunda dengan seni tradisional Tionghoa. Menurut Surjadisastra minat masyarakat terhadap pertunjukan seperti itu ternyata cukup bagus. Kalau demikian, pasti tidak ada salahnya kalau pertunjukan sejenis bisa diselenggarakan secara berkala. Momen-momen seperti itu mungkin akan memberikan efek ganda. Masyarakat akan memperoleh kesempatan untuk menyaksikan dan menikmati sebuah pertunjukan kesenian yang jarang dipertontonkan. Di samping itu, para senimannya sendiri akan bisa bertemu dan bertukar gagasan. Tidak mustahil dari kesempatan-kesempatan seperti itu akan muncul gagasan-gagasan baru yang lebih positif.

Seperti berulang-ulang dikatakan oleh Karmaka Surjaudaja yang sehari-hari menjadi Komisarus Utama (Chairman) Bank NISP, kesenian tradisional di mana pun (termasuk kesenian tradisional Sunda, tentu saja) harus didukung dan dibantu oleh banyak pihak. Capaiannya tak lain, agar para seniman tradisional Sunda bisa mengembangkan kreasinya secara maksimal dan masyarakat mengapresiasinya dengan baik. (Abdullah Mustappa)***

Komentar

2 Komentar kana seratan “Memekarkan Kesenian Tradisional Sunda”

  1. hani siti rukmanah | 03-03-2009, 03:30:11

    Assalamualaikum,,,,,,,,,,

    akang ceuceu pamu hoyong ngiringan aktif di PP-SS
    kumaha crana?

    naha aya kriteria?

  2. hani siti rukmanah | 03-03-2009, 03:33:29

    oh punten aya nu hilap,,
    wasta pun Hani Siti Rukmanah
    padumukan Garut, nuju sakola di Sastra Sunda angkatan 2007……..

Ngintunkeun Komentar