Buku Sunda, Evaluasi 2003 & Prediksi 2004

Oleh PURWANTO

KETIKA krisis ekonomi melanda Indonesia pada 1997, penerbitan buku adalah salah satu sektor industri yang terpukul. Namun, keadaan itu tampaknya tak berkepanjangan. Setidaknya 3-4 tahun terakhir ini, dunia penerbitan ternyata sudah kembali marak. Bahkan, yang “mengharukan,” munculnya penerbit-penerbit kecil di Jakarta, Bandung, dan, khususnya, Yogyakarta.

Di Bandung, penerbit yang lahir dari semangat ke-LSM-an seperti di Yogyakarta — bermodal swadaya dan banyak mengangkat isu universal — tidak banyak. Pendiri dan pengelola penerbit baru di Bandung walaupun juga bermodal tidak besar, punya azam hendak menjalankan bisnisnya secara profesional.

Sayang, langka penerbit baru di Bandung yang juga menerbitkan buku Sunda di samping buku lain. Kita temukan “penerbit” semacam itu justru di kota-kota kecil, seperti Tangerang (Penerbit Pamulang), Majalengka (Kemucen dan Putra Jaya Mandiri), dan lain-lain.

Penerbit-penerbit lama yang menerbitkan buku Sunda dalam beberapa tahun terakhir yaitu Rahmat Cijulang, Geger Sunten, dan Pustaka Jaya. Dalam tahun 2003, Rahmat Cijulang tidak menerbitkan buku, dan tahun 2002 hanya satu, Nu Baralik Manggung (Nano S.). Penerbit Geger Sunten, sudah dua tahun terakhir ini tidak menerbitkan buku sastra Sunda meskipun masih menerbitkan buku pelajaran bahasa Sunda, core bussines-nya. Pustaka Jaya sudah 3-4 tahun terakhir tidak menerbitkan buku Sunda, baru akhir 2003 ini menerbitkan buku kamus.

Adapun penerbit baru yang banyak menerbitkan buku Sunda (juga buku lain) dalam tiga-lima tahun terakhir adalah Pustaka Setia, Kiblat Buku Utama (KBU) selain penerbit kecil tersebut di muka. Untuk buku Sunda, Pustaka Setia lebih banyak menerbitkan kamus, terbit tahun 2001. Adapun KBU banyak menerbitkan buku sastra Sunda dan buku-buku Sunda jenis lain.

Evaluasi 2003

Pengarang dan bukunya yang terbit pada 2003 adalah Multatuli (Saija, disundakan dan diberi pengantar R.T.A. Soenarja), Ki Umbara (Nu Tareuneung, Si Lamsijan Kaedanan, Jurig Gedong Setan), Etti R.S. (Lagu Hujan Silantang), Tini Kartini (Jurig Pasea jeung Nyi Karsih), Deden Abdul Aziz (Panganten), Dadan Sutisna (Misteri Haur Geulis), Moh. Ambri (Munjung), Saleh Danasasmita (Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi), Rais Purwacarita (Huru Hara di Talaga), Ahmad Bakri (Mapag Perang Barata), Enas Mabarti (Elmu Politik), Dian Hendayana, dkk. (Campaka Mangkak), Usep Romli (Paguneman jeung Fir`aon), R.R. Hardjadibrata (Sundanese-English Dictionary). Dari ke-16 judul tersebut, 13 di antaranya diterbitkan oleh KBU, masing-masing satu oleh Putra Jaya Mandiri (Huru Hara di Talaga), PP-SS (Campaka Mangkak), dan Pustaka Jaya (Sundanese-English Dictionary).

Pengarang-penulis senior masih mendominasi buku Sunda tahun 2003, seperti Ahmad Bakri, Tini Kartini, Saleh Danasasmita, Enas Mabarti. Dua di antaranya sudah almarhum (Ahmad Bakri dan Saleh), Tini baru saja berulang tahun yang ke-70, dan Enas sudah di atas 60. Adapun R.R. Hardjadibrata, pakar bahasa Indonesia yang lama mengajar di Australia, juga sudah 70 tahun. Angkatan “agak muda” diwakili oleh Usep Romli (menjelang 55) dan Etti R.S. (45). Di dunia kepenulisan dan kepengarangan, Usep yang wartawan dan sastrawan, cukup dikenal. Beberapa buku kumpulan cerpen Sunda sudah ditulisnya. Demikian pula Etti, sastrawati Sunda yang pernah meraih Hadiah Sastera Rancage. Angkatan muda juga ada, seperti Deden dan Dadan, dan para penulis dalam antologi sastra Campaka Mangkak, seperti Euis Balebat, Dian Hendrayana, dan lain-lain.

Jenis buku Sunda yang terbit pada 2003 agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, bervariasi meskipun masih didominasi sastra. Dalam 2003 terbit dua judul buku di luar ranah sastra, Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi (Saleh Danasasmita) dan Elmu Politik (Enas Mabarti). Nyukcruk adalah kumpulan artikel almarhum Saleh mengenai sejarah Sunda yang pernah dimuat di beberapa majalah Sunda 1960-1970-an. Sedangkan Elmu Politik disusun oleh Enas Mabarti (aktivis politik NU/PKB), semula merupakan risalah “pendidikan politik” bagi warga NU/PKB.

Buku bacaan anak yang terbit pada 2003 ada tiga judul, masing-masing Huru Hara di Talaga, Mistiri Haur Geulis, dan Nu Tareuneung. Padahal, tahun 2002 ada lima judul. Nu Tareuneung, sebenarnya kurang tepat jika disebut buku anak, karena isinya menceritakan pahlawan Islam, sahabat Nabi Muhammad, yang tentu saja orang dewasa. Walaupun karena isinya bersifat didaktik dan dakwah Islam, segala lapisan umur dapat menikmatinya.

Perkamusan Sunda boleh jadi mencatat 2003 sebagai tahun monumental, karena terbit kamus dwibahasa (Sunda-Inggris) berjudul Sundanese-English Dictionary, dengan tebal 900 halaman lebih, karya R.R. Hardjadibrata. Kamus Sunda-Inggris yang terakhir terbit 141 tahun yang silam, karya Jonathan Riggs. Lebih bermakna lagi, kamus Sunda-Inggris menjadikan kamus Sunda-Belanda karya F.S. Eringa yang terbit pada 1984 sebagai bahan utamanya. Kamus lainnya, yaitu kamus tiga bahasa Sunda-Indonesia-Inggris bergambar untuk anak-anak (KBU, 2002) dicetak ulang dua kali dalam tahun 2003. Ini menyiratkan bahwa ada kebutuhan pada anak-anak di Tatar Sunda (mungkin juga orang tuanya), khususnya di kota, untuk “belajar kembali” bahasa Sunda.

Tahun 2003 juga telah melahirkan majalah Sunda baru Cupumanik dan usaha revitalisasi majalah terbitan Yayasan Cangkurileung, “Seni Budaya”. Melihat rubrikasi, “Seni Budaya” lebih terfokus pada seni Sunda khususnya, dan Cupumanik tidak terfokus pada satu bidang (sastra) saja tetapi juga bidang-bidang lain, dengan penulis bukan hanya sastrawan tetapi juga dokter, wartawan, dan pakar.

Di sini kita patut memberikan beberapa catatan mengenai buku-buku terbitan 2003 ini.

Pertama, tentang fungsi sosial bahasa Sunda. Dengan terbitnya dua buku nonsastra dan cenderung bersifat ilmiah — walaupun populer — harapan kita akan fungsi sosial bahasa Sunda tumbuh kembali. Sering ada anggapan bahwa bahasa Sunda hanya layak digunakan dalam percakapan, yang itu pun semakin sempit, atau hanya sebatas untuk menulis karya sastra. Ajip Rosidi dan budayawan Sunda lainnya kerap mencemaskan bahasa Sunda akan lenyap dan sering mengatakan bahasa Sunda tidak bisa digunakan untuk menyampaikan gagasan dan pikiran dalam berbagai bidang dan disiplin ilmu. Salah satunya disebabkan oleh tidak adanya pakar atau profesional Sunda yang mulai menulis dalam bahasa Sunda bidang kepakarannya.

Dengan terbitnya Nyukcruk, diharapkan para pakar sejarah Sunda dan sekaligus orang Sunda tergerak untuk melanjutkan tugas Saleh, yang sejarahwan, filolog, redaktur, dan pengarang-penulis. Edi S. Ekadjati, belakangan, sudah memulainya dengan menulis sejarah di Cupumanik. Juga yang lain tentunya. Pakar sejarah lainnya diharapkan menyusul. Tugas Enas Mabarti juga harus dilanjutkan oleh pakar dan praktisi politik yang lebih muda, seperti Eep Saefulloh Fatah, Setia Permana, dan lain-lain. Pakar-pakar lain dan beretnis Sunda, seperti Ahmad Biben (dokter), Chaedar al-Wasilah (pakar bahasa), Aat Soeriatmadja (lingkungan), dan lain-lain diharapkan akan tergerak oleh rintisan yang dibuat Saleh dan Enas.

Kedua, masalah kualitas. Segi kuantitas, jika Mangle dikaji, banyak sastrawan dan penulis muda atau calon sastrawan dan penulis bermunculan. Namun, pengamat dan kritikus melihat masih banyak yang perlu meningkatkan kualitasnya. Sebagian karya dalam Campaka Mangkak, baru sebatas mendekati standar. Kalangan muda mungkin belum ada yang mengungguli atau menyamai ketrampilan Ki Umbara dalam menulis sastra dakwah dan didaktik. Demikian pula, kepiawaian Ahmad Bakri dalam menggambarkan suasana pedesaan Sunda dan alam pikiran santri Sunda. Boleh jadi kepiawaian Ahmad Bakri hanya “diwarisi” oleh Usep Romli dalam kaitannya dengan dunia santri. Tetapi, Usep sudah termasuk senior. Kuantitas apalagi kualitas penulis dalam ranah nonsastra lebih parah. Mangle belum mencoba membuka rubrik-rubrik di luar sastra sehingga tidak mendorong ahli atau profesional menulis bidang kepakaran atau profesinya dalam bahasa Sunda. Cupumanik mencoba membuka rubrik-rubrik di luar sastra, tetapi karena masih baru, jumlah halaman terbatas, apalagi bulanan, belum tampak berhasil menampilkan potensi besar ini.

Proyeksi 2004

Mungkin dalam waktu dekat ini, apa yang menjadi harapan kita bahwa fungsi sosial bahasa Sunda meluas belum akan terwujud. Tetapi, setidaknya ini membawa perasaan lega bahwa bahasa Sunda mungkin tidak akan lenyap — tidak seperti ratusan bahasa lainnya di dunia — karena masih banyak yang memakainya dalam pergaulan sehari-hari dan juga dalam sastra serta, dengan kerja keras kita, bidang-bidang lain. Kita masih punya Galura dan Mangle, dan yang baru, Cupumanik, yang ketiganya menggunakan bahasa Sunda meskipun tirasnya masih terbatas. Kita juga masih punya pengarang dan penulis Sunda. Buku-buku Sunda pun masih diterbitkan. Untuk itu, kita coba buat prediksi buku Sunda 2004.

Pertama, buku nonsastra. Setidaknya, diperoleh informasi bahwa tahun 2004 KBU akan menerbitkan buku tentang anatomi karya Ali Sastramidjaja (dan dibaca oleh pakar), juga ada buku humor yang menyertakan kajian semiilmiah tentang humor dan tertawa karya H.D. Bastaman, pakar psikologi dari UI. Selain itu, perkiraan kita karena pada 2003 tidak menerbitkan buku, pada 2004 penerbit Kemucen Majalengka yang biasanya menerbitkan buku nonsastra akan berproduksi. Demikian pula Pustaka Setia, diperkirakan pada 2004 akan menerbitkan buku kamus Sunda atau sejenisnya karena produksi terakhir tahun 2001.

Kedua, buku sastra. Tahun 2004 diperkirakan masih didominasi buku sastra, khususnya prosa. Pengarang-pengarang angkatan lama juga diperkirakan masih mendominasi mengingat produktivitas dan kualitas pengarang muda masih jadi kendala. Juga beberapa judul buku lama kemungkinan diterbitkan kembali dengan alasan sama. Boleh jadi PP-SS akan menerbitkan karya-karya pengarang muda seperti halnya Campaka Mangkak, khususnya yang belum tampil di buku itu. Penerbit Pamulang diperkirakan akan menerbitkan buku pada 2004 nanti. Karya Hadi A.K.S., asal Pandeglang, diperkirakan masih akan menjadi kokojo-nya.

Akhirulkalam, mudah-mudahan dengan tetap terbitnya buku-buku Sunda, baik sastra maupun nonsastra, bahasa Sunda sebagai salah satu khazanah bangsa ini tetap lestari.

Penulis alumni Fakultas Ushuluddin IAIN SGD Bandung, penerjemah-editor buku keislaman, dan redaksi penerbit Kiblat Buku Utama Bandung.

Komentar

Ngintunkeun Komentar