Duduh Durahman, “Bersembunyi” di Banyak Nama Samaran
“KI Lurah Petingan”, barangkali sebutan itu sangat layak diberikan kepada Duduh Durahman. Perannya sebagai “Lurah” dalam empat (dari lima) film Si Kabayan (Si Kabayan Saba Kota, Si Kabayan dan Gadis Kota, Si Kabayan Saba Metropolitan, dan Si Kabayan Ketemu Jodoh), memang cukup meyakinkan banyak orang. Tapi, harus diakui, ia memang lurah, lurahnya para pengarang Sunda! Dan, “Ki Lurah” ini -di kalangan sastrawan muda kita-akrab dipanggil “Abah” atau “Abah Duduh”.
Layaknya sebagai lurah, ia senantiasa menyemangati, membimbing, dan menuntun para pengarang muda Sunda untuk terus berkarya lewat ruangan fiksi yang diasuhnya di Majalah Mangle. Lahirnya para pengarang muda Sunda, juga tak lepas dari peran sertanya dalam menumbuhkembangkan tradisi kritik dalam dunia sastra Sunda. Ia pun banyak menerjemahkan cerita pendek Inggris ke dalam bahasa Sunda, dan dimuat di berbagai penerbitan — tidak hanya di majalah yang diasuhnya saja. Karena jasanya dalam melestarikan bahasa dan sastra Sunda itulah, ia dianugerahi Hadiah Sastra Rancage tahun 1999, dari H. Ajip Rosidi.
Ada pun kata petingan, dalam bahasa Indonesianya berarti “pilihan”, “sepilihan” atau “yang terpilih”. Petingan ini, adalah bukunya yang diterbitkan tahun 1983, berisi bahasan terhadap sepuluh carita pondok karya para pengarang Sunda. Jadi, menurut hemat penulis, sudah sepantasnyalah Duduh Durahman mendapat julukan “Ki Lurah Petingan”.
Karena jasa-jasanya itu pulalah, Paguyuban Panglawungan- Sastra Sunda (PP-SS) bersama Penerbit Kiblat Buku Utama merasa “berkewajiban” memperingati kelahirannya pada Rabu mendatang, 26 Mei 2004, di usianya yang ke-65. Kebetulan, pada hari itu, sekumpulan cerita detektif (Sunda)-nya yang berjudul Ajalna Sang Bentang Pilem, diluncurkan bersamaan dengan hari ulang-tahunnya.
“Sebenarnya, yang dikirimkan ke penerbit bukan hanya cerita yang berjenis detektif saja. Tapi, entah kenapa, penerbit mendahulukan penerbitan buku jenis ini dibanding dengan jenis lainnya yang lebih nyastra, bercitarasa sastra. Bukan apa-apa, dalam kedudukannya di lingkungan pertumbuhan sastra Sunda, cerita detektif itu hanyalah menempati kelas dua. Tapi saya maklum, penerbit mungkin ingin mencari hal yang lain, mengingat cerita detektif Sunda memang terbilang langka,”
**
LAKI-laki yang terlahir di Ciwidey, 26 Mei 1939, dari pasangan H. Iskandar Saleh Syahbana dan Ny. Siti Aisah Carwati ini, dikenal orang sebagai pengamat/kritikus film dan sastra (Sunda) yang konsisten dengan bidang pekerjaan yang digelutinya. Sementara itu, profesinya sebagai pengarang dan penerjemah sastra asing ke dalam bahasa Sunda, tak banyak masyarakat yang mengetahuinya karena ia “bersembunyi” di balik beberapa nama samaran. Kalau ada pengarang yang menggunakan nama-nama (di antaranya) Radian Prasetia, Satia Sajati, Bagja Gumati, Maya Kusmayati D., dan Ahmad Nur, janganlah Anda bertanya siapa dia, karena dia adalah… Duduh Durahman! Nama-nama samaran tersebut bukanlah tidak ada artinya sama sekali, karena mereka diambil dari nama anak-anaknya, dan juga istrinya (Maya Kusmayati).
Lantas, kenapa dia “bersembunyi” di banyak nama samaran?
“Utamanya dikarenakan ketidak jujuran diri saya sendiri,” ujar Wakil Pemimpin Redaksi Mangle ini. “Saya ini banyak dikenal orang sebagai pengamat –ya pengamat film, ya pengamat sastra– padahal saya sendiri merasa tidak begitu. Karena orang mengenal saya sebagai pengamat, sebagai kritikus, maka saya takut ada yang mengritik kalau sekiranya karangan saya tidak bermutu. Takut ada anggapan, piraku kritikus karanganana kitu patut! (Masa kritikus karangannya begitu rupa (jelek)!, -pen).” Ada alasan lain selain itu, yakni yang berkaitan dengan soal “spesialisasi profesi”. Khusus untuk penulisan kritik, ia harus tampil dengan nama aslinya. Khusus untuk penulisan fiksi — karya asli maupun terjemahan-maka ia harus menggunakan nama-nama samaran. Lepas dari soal itu, bicara tentang Duduh tak bisa dilepaskan dari soal-soal budaya secara menyeluruh, termasuk di antaranya sastra, film, dan teater.
Di bidang sastra, ia pernah menerbitkan kumpulan bahasan, telaah, apresiasi, kritik, dan pengamatannya terhadap karya sastra Sunda, dalam buku Petingan (1983), Catetan Prosa Sunda (1984), dan Sastra Sunda Saulas Sausap (1991). Kritikan-kritikannya tajam menggigit, penuh analisa sebagai seorang “pembedah”. Tak mengherankan bila kemudian ia sering jadi anggota juri Hadiah Sastra LBSS (Lembaga Basa & Sastra Sunda) yang diselenggarakan sejak tahun 1990. Bahkan, tahun 1993, ia sendiri yang menjadi juara II dalam bidang penulisan esai.
Sebagai editor, ia pun bersama Abdullah Mustappa dan Karno Kartadibrata menerbitkan Sawidak Carita Pondok (1983) yang sangat melegendaris bagi kalangan masyarakat pembaca sastra Sunda. Lalu, sebagai pengarang fiksi, bulan ini ia menerbitkan kumpulan cerita detektif-nya dalam Ajalna Sang Bentang Pilem. Hanya saja, dalam buku ini ia menggunakan nama aslinya, tidak memakai nama samaran sebagaimana biasanya ketika ia mengarang fiksi.
Di bidang teater, selain menulis kritik, ia pun sempat berakting sebagai tokoh Jayaan dalam pergelaran Khotbah Munggaran di Pajajaran karya Yus Rusyana, garapan Liga Drama Bumi Siliwangi IKIP Bandung (1966). Lalu, tahun 1982, menjadi Goak Nitipraja dalam pergelaran Karto Loewak-nya STB (Studiklub Teater Bandung) garapan mendiang sutradara Suyatna Anirun.
Yang lebih “seru” lagi adalah kiprahnya dalam dunia perfilman. Salah seorang pendiri Forum Film Bandung (FFB) ini, kerap menerima orderan main film dan sinetron. Tapi yang lebih penting dari itu, adalah ketika ia ditawari menjadi anggota juri Festival Film Indonesia (FFI) 1981 di Surabaya.
“Satu-satunya juri dari daerah waktu itu, adalah saya. Sementara juri lainnya, semuanya dari Jakarta. Saya dengar, yang mengusulkan saya jadi juri adalah Asrul Sani, padahal waktu itu saya belum kenal dengan beliau. Entah atas pertimbangan apa. Mungkin, Asrul Sani sering mengamati tulisan saya yang dimuat di harian ini (”PR”, pen). Dan, saya ingat sekali, yang menghubungi ke rumah saya di Ciwidey, adalah Bustal Nawawi,” tutur pemenang penulisan kritik film FFI 1990 (atas karya perdana Putu Wijaya yang berjudul Cas Cis Cus) ini, mengenang. (Rosyid E. Abby)***
Komentar
1 Komentar kana seratan “Duduh Durahman, “Bersembunyi” di Banyak Nama Samaran”
Ngintunkeun Komentar
Inalilahi waina ilahi rojiun.
mugia bah duduh sing tampi iman sislamna.di bukakeun pintu surgana.mugia kulawargi anu di kantunkeun sing di pasihan kakiatan,amin.